Tuesday, 9 September 2014

Ada Bayangmu Dalam Anganku

Ada bayangmu dalam anganku
Menuai banyak cerita, dengan penuh cinta
Mendendangkan beribu kata
Tentang semua isi di jiwa

Ada bayangmu dalam anganku
Kala aku tertipu akan pesonamu
Menorehkan ungkapan rasa
Ada bayangmu dalam anganku
Di setiap langkah Gerak kakiku
Ada bayangmu dalam anganku
Berdiri tegak di depan kaca mataku

Ada bayangmu dalam anganku
Mendorong kemelut ingin memint
Ada bayangmu dalam anganku
Membuat tersenyum kala asa
Membuat tetes kala bahagia

Kamu dan bayangmu ada di anganku
di anganku ada kamu dan bayangmu
Ada kamu dan bayangmu di anganku


Kediri, 09-09-2014 (08.45)

KATA

Kata,,,
Berkembang semaunya
Berjalan sesuai Keinginannya
Kata,,,
kau punya siapa saja
Di bolak-balik pun kau tetap kata
Mewakili hati menuai rasa
mulut bungkam, penapun jalan
Setiap bagianmu mewakili isi nurani
Berkarya menghasilkan cipta
Menenangkan siapa saja




















Kediri, 10-09-2014 (08.15 AM)

Monday, 8 September 2014

AKU KEMBALI

Tidak ada lagi dering ponsel
Tidak ada lagi kata kencan
sepipun menjadi teman
tapi tahukah engkau
Aku yakin Robbi
Ini belokan ke kanan bukan ke kiri
Ke yang Haq bukan yang batil
Aku kembali Robbi
Menumbuhkan cintaku  yang lama tergadaikan
Aku kembali Robbi
Menyerahkan asa bahagiaku dengan mengadahkan tangan
Aku kembali Robbi
Menyerahkan tetes penyesalan
Aku kembali robbi
Menanamkan Kasih dengan sejuta sayang
Hampa pasti terbayar
Jalanmu adalah pilihan
Aku kembali robbi
Menjadi diri sendiri bukan suruhan
Aku kembali Robbi
Berjalan maju menatap masa depan
Tapi Robbi, Adakah setitik cahayamu
Yang menyakinkan aku terus akan penyesalan
Karenamu Robbi
Aku menjadi aku
Karenamu Robbi
Senyum lebar menjadi hiasan 
Dan sekolahpun di Jalanan 
Menanamkan syukur bukan kufur
Terimakasih Robbi
Aku bahagia memilihmu menjadi penuntunku
Yakinkan aku akan satu hadiah terindahmu
Kala tiba waktunya
Kau pertemukan aku dengannya
Yang menuntunku selalu berjalan
Meraih Ridho dan ampunan


Kediri, 08-09-2014 (09:13 PM)


WAKTU

Jalannya pasti namun tidak pernah ada yang mengerti
Menuntut insan mengikuti
Egonya begitu tinggi
Sampai tiada yang pernah bisa memerangi
Rahasianya tersembunyi di balik diri sendiri
Mau tinta hitam atau merah 
Bukan dia penentunya tapi insanlah pelakunya
Hanya kau dan tuhan yang tau
Kadang kala kau buat kami menyesal karena tak bisa mengulangi
Tapi kadang kala pula kau buat kami tersenyum bahagia ingin kembali
Tapi apalah daya
Insane hanya dapat takhluk pada kuasa ilahi
Dan mengikuti alur yang tidak terpahami



     Kediri, 08-09-2014 (08:14 PM)

Apalagi Alasan Kita?

Berbicara tentang bangsa, Indonesia ada karena kau  palestina
Yang mendesak arab untuk mendukung kebebasan kita dari belenggu Kolonial Belanda
6 September 1944 lewat gelombang radio Berlin
Syekh Muhammad Amin Al Husain  menyuarakan kobaran semangatnya untuk mendukung kita Indonesia
Apalagi alasan kita untuk tidak membantunya?
Ingatkah saudaraku?
Ingatkah Indonesia di tahun 1962, pemimpin besar kita
Bapak proklamator Ir. Soekarno berkata : “Selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada rakyat palestina, maka selama itulah Indonesia berdiri menentang penjajah Israil!”
Apalagi alasan kita untuk tidak membantunya?
Apalagi alasan kita untuk tidak mengulurkan tangan kita untuknya?
Zionis biadap itu memporak-porandakan Bumi para ambiya’ kita
Bahkan Al-Aqso kita?
Bahkan Al-Aqso kita tinggal kerangka
Tiada yang tau berapa lama  lagi akan berdirinya
Saudara kita di bantai di depannya
Haruskah kita terima?
Kiblat pertama sebelum ka’bah dan masjid ketiga termulia
Di robohkan oleh mereka
Haruskah kita diam saudaraku?
Haruskah kita diam jika muslim satu dengan yang lainnya adalah saudara?
Haruskah kita diam, jika Indonesia adalah penduduk muslim terbesar di dunia?
Haruskah kita diam, memandang mereka disiksa, diperkosa, di tembak serta rumah-rumah yang hanya tinggal puing saja?
Haruskah kita diam saudaraku?
Apalagi alasan kita untuk tidak membantunya?
Ingatkah kalian mukhodimah konstitusi kita?
“ Bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa”
Segala bangsa dan bukan hanya Indonesia saja
Apalagi alasan kita untuk tidak membantu mereka?
Tubuh mereka bantai bahkan makanpun hanya sisa itupun  kalau ada
Para zionis laknatullah itu sungguh biadab
Memporak-porandakan semuanya
rumah ibadah, sekolah bahkan tidak tersedia tempat untuk bernafas
Apalagi alasan kita saudaraku, untuk tidak membantu mereka?
Bukan juga masalah agama, tapi bagaimana memanusiakan manusia
Tidak perduli PPB diam dan dunia bungkam
Kita Indonesia
Kita muslim terbesar di dunia
Dan kita manusia
Tidak ada alas an lagi untuk tidak membatu mereka

Tasbih kami

Hari ini masih dengan pertanyaan yang sama
Siapakah yang akan syahid hari ini?
Rumah siapakah yang akan kau porak-porandakan hari ini?
Sampai berapa lama mereka menjalankan buldosernya di atas gubuk kami?
Berapa lama mereka acungkan senjata ke kami?
Berapa banyak peluru yang mereka terbangkan  ke kami?
Kapankah berakir jeritan itu?
“Aina abi, aina ummi?”
Dimana ayahku, dimana ibuku?
Berapa banyak anak yang harus membopong adiknya sendiri tanpa ayah  bunda?
Sampai kapan bising gemuruh roket berterbangan itu berhenti?
Kapan tiba masanya mereka pergi dan tidak kembali?
Tuan, terbuat dari apakah hatimu?
Mungkinkah percikan neraka jahanam?
Tuan, tidak lelahkah engkau?
Tuan, taukah engkau?
Satu syahid tidak membuat kami menarik kaki
Satu syahid membuat kami pasang nyali
Satu syahid membakar kobaran api semangat kami
Satu syahid menuntun kami untuk melanjutkan misinya
Iya tuan, melanjutkan misinya
Menjaga Al-Aqso kami
Karena surga jaminan kami tuan
Sedikitpun tidak ada niat kami untuk lari
Palestina,
Bumi para nabi
Mana mungkin kami meninggalkannya tuan?
Sekalipun tubuh kami tercincang layaknya daging sapi
Tapi, taukah kau tuan?
Ini jihad kami
Cucuran darah kami bertasbih,
Jeritan kami pun bertasbih
Bahkan air mata kami pun bertasbih
Tuanku, walau malam kami tidak seindah malammu
Tapi kami yakin ada satu dari golonganmu
Yang tidak dapat memejamkan mata karena kebiadabanmu
Tuhanku tidak tidur tuan

Kau satu kami seribu 

Cinta


Cinta adalah sesuatu yang tidak dapat dipandang hanya dapat dirasakan, cinta letaknya dalam qolbi dan sangat tersembunyi, getarannya membuat kita lupa diri, mampu mengubah dari pikiran sampai tindakan. Sungguh, cinta mengubah pait menjadi manis, susah menjadi senang, Onta menjadi Toyota, nafsu menjadi setan dan parahnya dapat mengubah yang halal menjadi haram.

            Kita lupa bahwa cinta yang agung dan murni adalah cinta ilahi, cintanya yang tidak pernah merubah asam menjadi kusam, cinta yang selalu bersemayam dalam hati dan tidak pernah kita pungkiri terkadang karena besar cintanya kita lupa akan agung kuasanya. Cintanya yang dapat mengubah asa menjadi bahagia, cinta yang menjadikan tidak ada keluh kesah, tidak ada sayup pilu, tidak ada wajah kusut, tidak ada tubuh lesu ataupun ratapan sendu.

DEWASA ADALAH PILIHAN

Banyak yang mengira bahwa yang tua yang lebih dewasa, tapi sebenarnya umur bukan jaminan dewasa. Apa sih arti dewasa?. Dewasa tidak pernah memandang siapa dia ataupun berapa umurnya, lebih sering ia mengalami kesulitan akan lebih memudahkan seseorang naik ke level yang disebut dewasa, karena kesulitanlah yang membuat seseorang berfikir bagaimana cara mengatasinya. Dewasa tidak dapat diliat dari satu sisi saja namun harus juga diliat dari berbagai sisi, kedewasaan seseoarang dapat diliat dari bagaimana cara seseorang menanggapi setiap masalah. “ Jika aku takhluk dengan diamku maka aku berbicara dan jika aku takhluk dengan bicaraku maka aku diam” satu kalimat yang pernah terdengar dari pembawa acara disalah satu stasiun TV, itulah prinsip orang dewasa. Seseorang yang dewasa cenderung mencermati dan mengamati tidak langsung mengomentari layaknya anak kecil yang langsung komentar jika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan jeritan hatinya. Ciri-ciri dewasa adalah diam aktif dalam arti tidak banyak berbicara dan menyikapi semua dengan bijaksana, memiliki sifat empati yang selalu mementingkan perasaan orang lain di atas perasaannya sendiri, seseorang yang dewasa selalu bersikap sabar tidak gegabah apalagi kalau masalah keputusan, ia akan memikirkan benar-benar mana yang baik serta mana yang buruk dan memilahnya sekiranya  yang tidak merugikan yang lainnya. Seseorang yang dewasa juga bisa menahan emosi tanpa mengikuti hawa nafsu.

Dewasa tidak timbul begitu saja, semua perlu proses. Semakin seseorang mengenal dunia semakin pula kita akan dihadapkan dengan tantangan dan inilah salah satu proses seseorang untuk melangkah kedewasaan. Seseorang yang dewasa akan berusaha untuk menahan hatinya dan menenangkannya ketika akan meledak. Tua itu pasti tapi dewasa adalah pilihan. 

KALI BRANTAS


Kutusuri ciptaan terindah dari Tuhan
Gemercik alirannya yang membuat semua terpaku
Deisiran angin yang menambah panoramanya
Sungai terpanjang di jawa setelah bengawan solo itu
Tidak hentinya membuat takjub siapa yang memandang
Oh… Indahnya
Terbentang luas di kelilingi pepohonan yang menghijau
Ayunan  tangan seorang pendayung dengan kayuhannya
Menjadi jembatan siapapun dan kemanapun
Lewat getek tuanya ia jadikan Sungai itu sumber memeras keringat
Inilah Indonesia dengan salah satu karunianya
Kali Brantas
Ya, orang menyebutnya Kali Brantas
Tempat berenang bersama ikan-ikan
Bermain dan bernyanyi bersama kicauan burung
Kali Brantas
Tiada yang pernah menyadari akan keagunganmu
Kala mentari tiba dengan kilaunya
Dan hamparan bunga yang mengelilinginya
Menambah asrimu dikala pagi
Inilah Indonesia dengan salah satu keindahannya
Kali Brantas
Betapa hebatnya Tuhan menciptakanmu
Menghidupi setiap makhluk yang ada di dalamnya
Anugrah yang membuat setiap anak bangsa
Bangga bisa memilikinya
Kala senja berkilau cahaya emas menyapa
Mendekap hangat menambah agungnya
Dan saat senja kabur menjauh kembali ke peraduan
Perlahan namun pasti, cahaya redup selimuti
Ketika  cahaya bulan dating
Dan mulai menyinarimu dalam kegelapan malam
Nyanyian sang pangeran kodok yang mempercantik malammu
Oh... Kali Brantas
Nikmat tuhanmu yang mana
Yang engkau dustakan
Ini hanya satu dari sekian
Bagian dari Indonesia



Sunday, 3 August 2014

Saat Kemarin


Masih sama seperti beberapa tahun silam, hamparan panjang, luas nan subur menghiasi setiap ujung jalan. Membuat sejuk mata memandang, kalau dahulu aku menyusurinya untuk menuntut ilmu dan menjalankan Qolamku di setiap lembar kitab yang berisi petuah-petuah sang Ilahi, namun kini aku kembali hanya sekedar untuk mengelilingi dan mengingat setiap hembusan nafas di sepanjang jalan, masih sangat teringat dalam benak ku ketika kardus atau tas plastik oleh-oleh setelah pulang kampung dari emak untuk dinikmati bersama dalam loyang atau sejenisnya, ku teteh berjalan dari tempat biasanya aku turun dari angkot lumayan melelahkan. Sesampainya disana disambut hangat oleh teman-teman seperjuangan.
Aku sangat merindukannya, bunyi bel yang selalu berdering ketika akan jamaah, ngaji dan sholat malam, yang paling menyebalkan adalah ketika tiba waktunya jamaah subuh, bel yang terlalu keras membuat tubuh ini tersentak segera mengambil air wudhu dan berangkat ke masjid, kamar kecil beralaskan kayu yang menjadi kisah ketika aku berada disana, kamar aminah yang masih aku ingat ketika kita tidak menghiraukan bel untuk rutinitas setiap pagi, sekitar 20 anak berjejer-jejer di depan masjid untuk khataman, setiap anak mendapat bagian 1 jus untuk dibaca gara-gara itu, yang peling memalukan adalah kalau ada santri putra, kita tundukan wajah setunduk-tunduknya karena malu. Disana aku harus bangun jam 3 kemudian sholat malam, sahur setiap senin dan kamis, puasa senin kamis menjadi kewajiban, ya kami tau kalau itu hukumnya sunnah tapi diwajibkan hanya untuk membiasakan diri agar terbiasa dan jika tidak berpuasapun ada hukuman tersendiri, setelah itu sholat shubuh kemudian ngaji Al-Quran, setangah 6 kita mulai persiapan untuk berangkat ke sekolah, antri mandi sudah menjadi kebiasaan sebelum berangkat kadang pula kita tidak mandi dan hanya cuci muka saja karena memang jamnya sudah siang dan jika terlambat sekolah dapat hukuman lagi, pulang sekolah sekitar jam 2 makan siang kalau tidak puasa kemudian istirahat. Ketika tiba adzan asar bel kita berangkat jamaah kemudian ngaji sampai sekitar jam 5, setalah itu ada yang mandi ada yang bersantai ria menunggu tibanya magrib setelah magrib jamaah kemudian ngaji, makan sholat isya ngaji lagi kemudia belajar bersama. agenda rutin setiap hari kamis malam adalah kita khataman bersama, kemudian setalah isya muhadhoroh, tidur sudah menjadi kebiasaan kita ketika ngaji atau kegiatan karena memang kita pada saat itu masih duduk di kelas SMP, pernah di suruh berpidato waktu habis mukhadoroh karenatidur pas mukhadoroh, untung saja habis ada acara lomba pidato jadi teks masih sangat jelas di otak.
Panjang banget ceritanya kalau di torehkan, karena 3 tahun bukan waktu yang singkat, dari mulai aku mengenal cowok, pacaran di pondok, aku ngebleng tapi bukan karena hukuman lo ya ngeblengnya,, hehehe... temanku ada yang kesurupan, roan di jamuan, kumpul teman, nyuci bareng, tidur bareng makan breng, bertengkar antar kelas hanya gara-gara poster dan masih banyak banget, tapi semua itu hanya berhenti tiga tahun karena aku yang lebih mementingkan gengsiku menuruti kesenangan sesaat yang menjadikan aku harus pulang dan melanjutkan di dekat rumah, menyesal aku ingin mengulangnya dan memperbaiki setiap rajutan yang tidak tepat, ingin bersungguh-sungguh ketika belajar. emmm,,, tapi semoga bisa menjadi pelajaran untuk ku sekarang, bahwa semua itu hanya titipan tidak perlu aku terlalu mengejarnya dan seharusnya hanya sewajarnya. Robbi Ijinkan nanti aku untuk bisa mengijakan kakiku untuk mencari ilmumu dan mancari jati diriku, entah berapa tahun kedepan aku yakin engkau masih memberiku kesempatan untuk menjalankan Qolamku dan mewarnainya dengan tinta-tinta emas di setiap lengkukan huruf hijaiyah. 
 
AZ-ZHAFIROH Blogger Template by Ipietoon Blogger Template