Hari
ini masih dengan pertanyaan yang sama
Siapakah
yang akan syahid hari ini?
Rumah
siapakah yang akan kau porak-porandakan hari ini?
Sampai
berapa lama mereka menjalankan buldosernya di atas gubuk kami?
Berapa
lama mereka acungkan senjata ke kami?
Berapa
banyak peluru yang mereka terbangkan ke
kami?
Kapankah
berakir jeritan itu?
“Aina
abi, aina ummi?”
Dimana
ayahku, dimana ibuku?
Berapa
banyak anak yang harus membopong adiknya sendiri tanpa ayah bunda?
Sampai
kapan bising gemuruh roket berterbangan itu berhenti?
Kapan
tiba masanya mereka pergi dan tidak kembali?
Tuan,
terbuat dari apakah hatimu?
Mungkinkah
percikan neraka jahanam?
Tuan,
tidak lelahkah engkau?
Tuan,
taukah engkau?
Satu
syahid tidak membuat kami menarik kaki
Satu
syahid membuat kami pasang nyali
Satu
syahid membakar kobaran api semangat kami
Satu
syahid menuntun kami untuk melanjutkan misinya
Iya
tuan, melanjutkan misinya
Menjaga
Al-Aqso kami
Karena
surga jaminan kami tuan
Sedikitpun
tidak ada niat kami untuk lari
Palestina,
Bumi
para nabi
Mana
mungkin kami meninggalkannya tuan?
Sekalipun
tubuh kami tercincang layaknya daging sapi
Tapi,
taukah kau tuan?
Ini
jihad kami
Cucuran
darah kami bertasbih,
Jeritan
kami pun bertasbih
Bahkan
air mata kami pun bertasbih
Tuanku,
walau malam kami tidak seindah malammu
Tapi
kami yakin ada satu dari golonganmu
Yang
tidak dapat memejamkan mata karena kebiadabanmu
Tuhanku
tidak tidur tuan
Kau
satu kami seribu

0 comments:
Post a Comment