Malam membawa diri ini semakin lelap mengarungi gelap penuh pernik kesemuan dunia. Ia memang datang tanpa rupa serta memaksa, jika waktunya tiba Ia datang melepas tawa tak perduli apa pangkat atau lekat.
Ternyata aku masih takut akan kedatangannya.
"Hay!" sapanya remang lewat bayang.
Kita memang tak pernah ada tegur nyata, hanya bingkisan indah dari Tuhan yang mengantarkanmu menghiasi mimpiku.
Pertanda apa? Anda siapa? Mengapa anda?
Karena bukan sekali tuan!
Jika memang Tuhan berkehendak, dekatkan!
Jika tidak, jangan kau hadirkan dia dalam mimpiku. Karena aku hanya abdi yang menjangkau syariah pun belum mampu. Hatiku jauh dari Aisyah, Khotijah apalagi Robiah al adawiyah.
Harapanku terlalu tinggi berdiri pada puncaknya. Jujur saja aku lelah, berdiri diantara harapan-harapan semu itu. Membosankan. Pastaskah jika aku berharap yang demikian itu, jika kaca saja bahkan tak mampu memantulkan bayangan. Terlalu buruk.
Aku inginkannya.. Aku berharap itu dia.. Jika bukan dia... Carikan dia lain yg setara dengannya bisa membawaku semakin mendekatkan diri denganMu.