Cinta akan lebih indah
jika ia datang disaat yang tepat. Seperti halnya Ia yang lebih memilih keluar
dari masa jahiliyahnya. Aisyah, seorang gadis dengan latar belakang agama yang
kuat bahkan pernah tersesat dan terperangkap bujuk rayu setan.
“ Maafin Aish umi, Aish
sudah kembali.” Butiran tulus mulai keluar dari mata mungilnya.
Setelah tiga tahun
lamanya Ia mengabaikan keluarga bahkan tak mendengar nasehat kedua orang tuanya,
kini Ia kembali. Aish gadis kecil yang dirindukan ibunya. Ia sangat menyesal
karena tidak mendengarkan uminya untuk tidak berpacaran. Tepat tiga tahun yang
lalu,
“ Aish, kamu ini masih
sangat kecil untuk mengenal cinta.” Tutur uminya, saat itu memang Aish masih
berumur limabelas tahun. Semenjak ditinggal ayahnya Aish mulai berubah drastis.
Dunia malam menenggelamkannya. Apalagi semenjak Ia mengenal Yudi, seorang
laki-laki nasrani yang membuatnya semakin jauh dari Allah.
“ Umi tau apa soal
cinta, sudah umi tidak usah pikirin Aish. Toh, Yudi juga biasanya yang ngasih
uang Aish.” Bentak Aish pada uminya.
“ Nak, Umi tidak ingin
kamu kenapa-kenapa.”
“ Sudahlah umi, Aish
udah bukan anak SD lagi. Aku udah tau mana yang baik dan buruk, udah umi urusin
cucian saja.”
Begitulah Aish dulu
ketika dinasehati uminya. Tak ada henti-hentinya uminya berdo’a agar Aish
kembali. Sampai akirnya Aish bertemu dengan Ahmad, laki-laki yang membawanya
kembali.
***
“ Assalamualaikum,
mbak! Saya lihat sudah hampir dua jam mbknya termenung dibawah jembatan ini
mbk. Apa tidak sebaiknya mbaknya pulang? “ sapa Ahmad malam itu, Ia merasa
kasihan melihat Aish yang duduk termenung dengan tatapan kosong.
“ Siapa kamu? Pergi sana,
semua laki-laki sama saja.” Seketika Aish menjerit dan menangis sejadi-jadinya.
Ahmad pun mulai duduk disampingnya, Ahmad tau dari wajah Aish tampak dia sedang
ada masalah.
“ Tak ada di dunia ini
yang tak memiliki masalah, termasuk saya mbak. Saya bahkan cuma anak panti yang
beruntung bisa mendapatkan orang tua asuh. Sejak kecil saya tidak tau bagaimana
ibu dan bapak saya. Tetapi Alhamdulillah, Allah masih memberi saya hidup
sehingga saya mampu mendo’akan mereka. Masih banyak orang yang kurang beruntung
dari pada kita mbak. Apa dengan seperti ini masalah mbaknya selesai? “
Aish masih terus
menangis dan Ahmadpun terus menghiburnya, menceritakan tentang kisah-kisah
sahabat yang kurang beruntung lainnya. Aish mulai larut dan teringat akan semua
dosa-dosanya dimasa lampau, Ia hanya terdiam dan mendengarkan Ahmad bercerita.
“ Mas, ajarkan aku
untuk kembali!.” Pinta Aish lirih sembari mengusap air matanya.
Permintaan Aish
seketika menggetarkan hati Ahmad, “subhannallah”
batin Ahmad. Aish mulai menceritakan semua masalahnya kepada Ahmad termasuk
tentang yudi yang selingkuh dan meninggalkannya begitu saja, sehingga
membuatnya menjadi seperti ini. Ahmad mengajaknya ke pesantren, dan Aish pun
memutuskan untuk tidak pulang ke rumah sampai ia bisa benar-benar memperbaiki
dirinya.
***
Satu bulan berlalu, umi
Aish sangat kebingungan. Tak henti-hentinya Ia berdo’a dan memohon kepada Allah
agar Aish segera pulang. Pintu rumahnya pun
tak pernah Ia kunci supaya ketika Aish pulang, tidak perlu mengetuk atau
memanggil uminya. Badannya kurus kering, matanya sembab karena terus menangis
disetiap malam. Tiba-tiba,
“ Aish!” Ia terdiam, memandang
seseorang yang berdiri didepan pintu. Balutan jilbab biru menambah parasnya
terlihat sangat cantik, memang Aish terkenal sebagai kembang desa di
kampungnya.
“ Assalamualaikum,
kenapa umi jadi kurus seperti ini. Maafkan Aish umi!” Ia menghampiri Ibunya dan
memeluknya erat-erat, mereka hanyut dalam haru.
“ Maafkan Aish umi,
Maafkan Aish, Maafkan Aish…” Kalimat tesebut tak henti-hentinya keluar dari
bibir Aish.
“ Sudahlah nak! Tak
perlu ada yang disesali.” Umi mengusap air mata yang mengalir dipipi Aish.
Aish menceritakan semua
yang terjadi dan apa yang dilakukan selama ini serta mengenalkan Ahmad, yang
telah membuatnya seperti ini.
Kini Aish sudah
kembali, menjadi muslimah yang anggun dan taat beragama, taat kepada orang tua
serta mulai memperdalam ilmu agama yang lama ia tinggalkan.
0 comments:
Post a Comment