Tuesday, 7 July 2015

Karena Jomblo Menghantarkannya Menjadi Penghafal Qur’an

Jomblo adalah kondisi dimana seseorang tidak memiliki pasangan. Banyak alasan mengapa seseorang berada pada kondisi tersebut, entah karena ingin sendiri, baru putus sama pacar, trauma sama pacar, konsentrasi dengan pekerjaan, pelajaran atau mungkin memang tidak laku. Alasan terakir inilah yang biasanya digunakan untuk menjatuhkan mental si jomblo. TAK LAKU-LAKU, Hoeeyyy, kita bukan dagangan kali sob, kita jomblo karena prinsip.
Apa untungnya berpacaran? Tidak adakan? Berpacaran hanya akan menjerumuskan kita ke hal-hal yang dilarang, itu pasti dan sudah banyak bukti. Aku jomblo dan aku bahagia, lebih bahagia ketika aku mendengar cerita dari temanku Annisa yang pernah terjerumus ke perkara yang diharamkan tersebut.
***
Ia Annisa, gadis yang memutuskan berhijrah setelah lima tahun menjalani pacaran. Sebelum berpacaran Annisa atau yang sering disapa Nisa adalah orang yang rajin, baik dalam bidang pelajaran umum atau pelajaran agama. Semua berubah ketika ia mulai mengenal Ari, seorang laki-laki yang merubahnya menjadi gadis yang ugal-ugalan tak karuan bahkan sudah berani membentak ibunya. Dunia malam menjadi temannya, Ia sudah mulai terbawa arus jaman yang membuatnya lupa akan aktifitasnya. Bahkan sholat lima waktu pun sudah tak ia laksanakan. Lima tahun lamanya, sejak Ia duduk di bangku SMA. Memang jaman mampu mengkikis Adab menjadi biadab. Bukan sekali bahkan berkali-kali ia membuat orang tuanya menangis. Tapi tamparan dasyat ia dapatkan dari teman dekatnya, ketika Ia duduk dibangku kuliah.
“ Kamu jomblo ya ndin? “ tanya Nisa pada Andin, teman dekatnya. Seorang aktifis organisasi dakwah dikampusnya. Andin tau, bagaimana Nisa sebenarnya. Ia tau bahwa dulunya Nisa seperti apa, Ibunya menceritakan semuanya bahkan beliau meminta bantuan Andin untuk bisa membawa Anisa kembali. Menjadi gadis yang anggun dan yang pasti mau kembali mengenakan hijab dan tak meninggalkan sholat. Andin hanya mengangguk “insyaallah bunda”  jawab Andin dalam hati.
“ Ndak tuh nis, aku tuh single bukan jomblo “ jawab andin sambil nyengir ke annisa.
“ Sama aja tuh nis, cuma beda tulisannya”
“ Apa untungnya pacaran to nis? Tidak adakan? “ andin menghela nafas sejenak, Ia rasa ini saat untuk mengakatan semuanya.
“ Apa yang kamu dapatkan? Apa kamu bisa menjamin dia bisa menjadi suamimu kelak? aku yakin kamu lebih tau dari pada aku nis.”
“ Tapikan setidaknya kita ada semangat to Ndin setiap hari”
“ Bagaimana dengan yang menyemangatimu dari kecil, yang selalu ada bahkan yang kau lupa sekarang?”
“ Tapi..,” sela Nisa.
“ Biarkan aku selesai bicara dulu Nis, sekarang kamu ingat-ingat! Siapa yang ada saat kamu sakit, apa Ari ada? Aku tak melarangmu berpacaran, tapi aku geram dengan tingkahmu pada Ibumu Nis. Apa kamu ingat sholat ataukah kamu lupa cara sholat? Apa kamu akan hidup selamanya? Aku tak ingin kamu jauh terperangkap dikemaksiatan nis.” Buliran air mata membasahi pipi Andin, Nisa pun tampak menunduk.
“ Maafkan aku Nis, jika ucapanku menyakitimu. Tapi aku benar-benar ingin kami kembali, menjadi Anisa yang rajin beribadah bukan anisa yang seperti ini. Nis! Aku tak tau akan berapa lama umurku Nis, dan aku tak ingin jika aku mati temanku masih seperti ini. Umurku tak lama lagi Nis, kanker ganas sudah mulai menggerogoti tubuhku. Aku ingin melihatmu berhijab sebelum malaikat pencabut nyawa itu datang Nis, ini hari terakirku.”
Andini memang mengidap penyakit kanker sejak setahun yang lalu, tapi tak satu orangpun yang tau kecuali orang tuanya. Bahkan Anisa teman dekatnya, sedikitpun tak mengerti bahwa sahabatnya sudah sekian lama menderita dan dokter memvonis hidupnya tinggal satu minggu lagi.
“ Apa katamu? Kenapa kamu tak mengatakan ...,”  belum selesai Nisa berkata, Andini langsung memeluknya.
“ Ini hidup Nis, Ini takdir Nis, tak ada yang tau dan aku pun juga tak menginginkannya. Rambut yang harus digundul, kemoterapi setiap bulan serta berteman dengan pil pil besar dan jarum yang menakutkan itu nis. Sudahlah! Tak ada yang perlu disesali.” Bisik Andini.
***
Setelah kejadian tersebut, Anisa terus mengingat-ngingat apa yang dikatakan sahabatnya. Dia memilih merenung di kamar dan tak mau keluar, tiba-tiba satu pesan melayang di kotak masuk Hpnya,
Andini
jika sebelum akad saja dia sudah berani melabuhkan tangannya kepada tubuhmu..
jangan heran, jika setelah menikah ia mampu melakukan itu kepada wanita-wanita yang lain..
toh, sama-sama dosa pada Allah..
yang tiada takut dosa sebelum menikah, jangan harap dia takut dosa setelah menikah
#Ustad Felix_siaw
From : Andini
05/05/2014 18:35:24
Berkali-kali anisa membaca pesan tersebut, seketika Ia teringat akan apa saja yang telah dilakukan dengan Ari. “Betapa bodohnya aku, kemana aku selama ini.” Ia teringat akan masa pacaran dengan Ari yang tak pernah ada batasan satu sama lainnya.
“ Bahkan ketika kondisimu seperti ini, kamu tetap mengingatku ndin. Terimaksih.” Kata anisa sembari terus memandangi pesan dari Andini.
Kemudian Ia teringat akan sesuatu yang seharusnya segera dilakukan,
Assalamualaikum, sebelumnya aku minta maaf Mas. Aku menyadari apa yang kita lakukan ini adalah sesuatu yang terlarang. Kita terlalu jauh melangkah. Aku rindu sholatku lagi. Sekali lagi maaf, semoga kamu bisa menerima keputusanku dengan berbagai alasanku.
Kita putus
Wassalamualikum
Anisa
Ia mengirim pesan tersebut ke Ari, memang tak semudah yang  Ia bayangkan. Berbagai kata tak menyenangkan melayang di ponselnya,
“ Apa katamu? Kita putus! “
“ Setelah lima tahun, dengan begitu mudahnya kamu memutuskanku. Toh, aku juga tidak pernah melarangmu Sholat. Aku tidak terima, lihat saja nanti!”
Entahlah, Ia hanya mampu memasrahkan semuanya kepada Allah. Bukankah Allah selalu menolong hambanya yang benar-benar bertaubat.
***
Satu minggu penuh Anisa menghabiskan harinya dirumah, Ia menghabiskan harinya untuk bermuhasabah. Anisa mulai mencari baju-baju muslim yang masih bisa digunakan dan membuang semua baju terbuka yang ia punya. Ibunya merasa sangat bahagia karena anaknya sudah kembali.
Tut… Tut… Tut…
Tiba-tiba Ia Mendengar Hpnya berbunyi, satu pesan yang membuatnya sangat syok. Ia segera bergegas menuju ke Rumah sakit dimana Andini dirawat.
“ Buk! Bagaimana kondisi Andini.” Tanya nisa kepada ibu Andini yang tampak kebingungan, Ibunya hanya menggelengkan kepala saja.
“ Dok, bagaimana kondisi teman saya? “ Tanya Anisa pada dokter yang menangani Andini.
“ Maafkan aku nak, aku tidak bisa menyelamatkannya. Tuhan berkata lain.”
“ Apa dok? Dokter berbohongkan? Andini masih hidupkan dok, dia tidak boleh mati dok, dia harus melihat saya mengenakan jilbab dulu.” Seketika tangisan pecah.
“ Tenang nak! Biarkan Andini pergi, dia sudah lama menahan sakitnya. Ibu sudah rela.” Kata ibu Andini, sembari memeluk Nisa.
Anisa masih belum percaya, dia menggoyang-goyangkan tubuh andini dengan sekuat tenaga.
“ Ndin! Ini aku, aku sudah berjilbab seperti yang kau pinta. Aku sudah kembali ndin, bangun Ndin! Lihat jilbabku! , tak ingatkah, kau yang sering bilang jika aku akan Nampak cantik jika mengenakan jilbab. Bangun Ndin! , kau bilang ingin melihatku sebelum pergi. Kenapa kau bohong? Bangun ndin! Banguuun!” Anisa tak mampu menahan tangisnya, sahabat sekaligus orang yang telah membuatnya berhijrah telah pergi meninggalkannya, untuk selamanya.
***
Setelah kepergian Andini, Anisa mulai memutuskan untuk menjadi seperti yang sahabatnya pinta. Ia kini lebih aktif di organisasi keagamaan yang ada di kampusnya. Menjadi jomblo dan kembali berhijrah tak mudah bagi Nisa, banyak sekali halangan dan rintangan. Selain parasnya yang rupawan juga karena prestasi-prestasinya yang memuncak. Ia menjadi mahasiswi yang banyak dikagumi banyak kalangan.
Sudah lama pula Anisa ingin menjadi seorang penghafal Al-Qur’an, tapi hati sering kali bergejolak,
“ Kamu siapa? “ pertanyaan ini yang sering muncul dalam benaknya, tapi tak henti-hentinya Ia meminta ya Allah aku ingin bisa menjadi penghafal kalammu, yang mampu membawa keluargaku ke surgamu.
Memang benar, jika Allah mengabulkan do’a hambanya yang benar-benar ingin merengkuh kasih sayangnya.
“ Kak, sebenarnya aku juga ingin menjadi penghafal Al-Qur’an.” Kata Anisa kepada Arif, Kakak tingkat yang biasa mengisi kajian di organisasinya, kata itu seketika keluar ketika arif menceritakan kepadanya tentang  tiga orang pelacur yang bertaubat dan mampu menjadi penghafal Al-Qur’an.
“ Iya, Ayo Anisa! Tak ada yang melarang, mulai besok kamu sudah bisa setor. Jika memang kamu benar-benar menginginkannya.”
“ Apa Anisa bisa kak?” Tanya Anisa.
“ Apa yang tak mungkin Nisa, semua mungkin karena-NYA. Sekarang tinggal bagaimana kamu, apakah kamu benar-benar ingin menjadi penghafal? Menjadi penghafal pun juga banyak cobanya Anisa.”
“ Iya kak, saya siap dengan segala kemungkinan yang ada. Kak! Aku pernah dengar katanya yang tidak kuat menghafal katanya gila, apakah itu benar?”
“ Kata siapa itu Nis? Mana mungkin Al-Qur’an kitab suci bisa membuat orang gila. Itu mungkin karena dia terlalu banyak amalan yang aneh-aneh. Ingat! Al-Qur’an itu As-syifa’.” Sahut Arif.
“ okey kak, mulai besok Nisa setor hafalan. Bombing Nisa’ ya kak!” kata nisa semangat.
Setelah percakapan tersebut, Anisa semakin semangat menjani hidupnya.

Jomblo ternyata tak buruk baginya, jomblo mengantarkannya menjadi seorang gadis yang berprestasi disegala hal. Termasuk pula, KARENA JOMBLO MENGHANTARKANNYA MENJADI PENGHAFAL AL-QUR’AN.

0 comments:

Post a Comment

 
AZ-ZHAFIROH Blogger Template by Ipietoon Blogger Template