Sekalipun aku mampu bersembunyi dari mereka semua, tetap saja ada
yang tak mampu aku bohongi. Bahkan sekuat apapun aku berusaha, aku masih
belum bisa menampiknya. Aku bahkan tak mampu membohongi diriku sendiri. Aku
masih belum bisa melawannya.
Kenapa aku seperti ini? Bukankah seharusnya aku senang? Ketika
semua yang aku inginkan berkumpul sudah berkumpul. Ada rasa tak pantas aku
menjadi bagian dari mereka, aku sungguh berbeda. Tak ada lebihnya, menyusahkan
pula. Aku merasa tak seharusnya aku berada diantara mereka. Aku bohong jika aku
santai, aku bohong jika aku tak memikirkan semuanya. Aku bohong jika aku tak
iri dengan mereka. Aku bohooongggg. . .
Aku harus berusaha merangkai kata setiap bertemu dengan mereka,
bahkan aku tak tau bagaimana cara bercanda dengan mereka, mereka bukan orang yang jauh,
mereka saudaramu. Tapi
itulah kenyataan, aku masih ada ragu, bukan ragu sebenarnya, Iri lebih
tepatnya.
“ Bodoh kau iri dengan saudaramu sendiri ”
“ aku sangat berbeda kawan, mereka sungguh sempuna.”
“ Tak sepantasnya kau demikian! ”
“ aku harus seperti apa? Mereka seperti membedakan aku, mereka
seperti mengacuhkan aku dan mereka sendirilah yang membuat jarak itu, “
“ Kau tau? Bagaimana dia salah satunya memperlakukanku? Aku bahkan
seperti bukan saudaranya sendiri. “
“ tak pernah dia memandangku ada, membelikan baju atau yang
lainnya seperti adik yang lainnya, “
“ Bukan, bukan baju atau apapun itu, tapi aku iri dengan cintanya.
Aku juga adiknya, “
“ kau tau, apa yang aku rasa ketika yang lainnya mampu bersandar
dibahunya, bercanda tawa dengannya. Aku sungguh iri,”
“ ingin rasanya aku ingin menjauh dari mereka, tapi...,”
“ tapi apa?”
“ aku tetap tak mampu, memang tak ada piala, prestasi atau apapun
itu. Memang masalaluku tak seindah yang lainnya. Tapi ketahuilah! Itu dulu, “
“ aku hanya merindukannya kawan, sangat-sangat merindu.”
0 comments:
Post a Comment