Aku tak
cantik, layaknya mereka
Aku tak
pandai, tak pula wanita dengan berjibun pengetahuan umum atau agama. Menyusun
hijaiyah saja Aku masih mengeja. Jika kelak Kau temukan cacat pada diriku,
kumohon ajari Aku untuk menutupinya. Jika kelak Kau temukan penyesalan karena
ternyata Aku jauh dari yang Kau kira maka maafkan Aku. Jika kelak wanita yang
Kau kira bernasab baik ini, ternyata jauh dari yang Kau kira, maka maafkan Aku.
Aku
sungguh bukanlah mereka yang mampu melafalkan Al-Quran dengan fasih, yang mampu
membaca kitab layaknya membaca sebuah buku biasa; lanyah.
Aku
sungguh bukanlah layaknya mereka yang pandai pengetahuannya.
Aku
sungguh bukanlah layaknya wanita yang mampu meracik makanan dengan lihai,
hingga serasa belati sudah berjalan sendiri mengiris-ngiris sayuran itu.
Aku
sungguh bukanlah layaknya mereka yang mampu memoles dirinya dengan sangat
cantiknya.
Aku
sungguh bukanlah layaknya mereka yang cantik Akhlaqnya Tuan.
Jika
orang lain bahkan orang tuaku sendiri tak pernah menceritakan tentangku,
mungkin karena tak ada baik yang mampu mereka ceritakan.
Terkadang
Aku berfikir, benar-benar siapkah Kau menerima Aku ini?
Terkadang
Aku berfikir mampukah Kau menerima Aku ini?
Tuan,
kutuliskan ini dengan berurai air mata. Ku ingin Kau tau, bahwa Aku bukanlah
wanita dengan kesempurnaan seperti mereka. Bahkan jika ditanya apa lebihku?
Tidak ada.
Tuan,
Ajari aku! Bimbing Aku. Mengerti apa yang tidak Aku mengerti terutama tentang
agama.
Ajari
Aku, menutup semua aibku, dan memenuhi apa inginmu.
Menjadi
istri yang Kau inginkan, Ku yakin semua berharap pasangan mereka sempurna.
Sungguh
Tuan, Aku menerimamu dengan modal bismillah. Aku hanya berharap menjadi istri
yang Kau harapkan.
Aku yakin
setiap wanita pasti berharap Ia menjadi istri layaknya ummu Khatijah, Fatimah
atau Aisyah.
Aku hanya
ingin dalam pintaku, kurasa sangat jauh jika ingin melangkah kesana.
0 comments:
Post a Comment