Thursday, 12 May 2016

Pintaku tak muluk, hanya adakan Aku biar tak terasa maya. Keadaan ini membuatku bertanya, “Iakah Kita akan melangkah kesana?” tes apalagi yang kau berikan padaku. Menunggu itu lelah Abang, sungguh sangat melelahkan. Serasa hati dan pikiran berlari, apa Kau rasakan hal sama? Atau sebaliknya?

Sudah kujelaskan apa yang tidak Aku suka, namun Kau malah bertingkah demikian ini. Harus bagaimana Aku. Apa Kau tau, jika tangisku karenamu. Kau tau, ada yang menghantam tubuh ini ketika kubaca statusmu. Buliran air mata mengalir di taubatku, “Kenapa dengannya? Apa yang harus Aku perbuat Gusti? Maafkan Aku, jangan Kau kotori cintaku yang mulai tumbuh denganMu, hanya karena hambamu yang baru menyapaku sejenak saja.”

Siapa yang egois disini? Sungguh, tak bisakah Kau mengerti Aku wanita dengan perasaan yang mudah rapuh, Aku sungguh masih malu memulai. Seharusnya Kau tau itu? Sudah kukatakan, “tolong jelaskan, apa kurangku agar kutau apa maumu. Jangan kau diami Aku!”

Aku wanita abang, meski bibir kubuka lebar untuk tersenyum. Namun hatiku menjerit, “Aina anta?” tak merasakah Kau, tangisku dalam sujudku selalu meminta, “sampaikan rinduku padanya Gusti, Aku rapuh. Ku titipkan rinduku lewat Engkau. Satukan kami dalam naunganMu, tata niat kami. Bismillah taqorrub illahllah. Ingatkan kami kala kami lupa, istiqomahkan kami beribadah kepadaMu. Jadikan dhuha, tahajjud, siam, dzikir menjadi kebiasaan kami. Sebelum, hingga nanti bahkan sesudahnya sampai Kau sendiri yang menjemput Kami lewat malaikatmu. Ingatkan Dia, akan malam, siang dan paginya. Kelak, satukan Kami karenaMu.”


Tak semua doaku mampu kutulis, karena jariku sudah tak mampu menahan rindu bersua denganmu.

0 comments:

Post a Comment

 
AZ-ZHAFIROH Blogger Template by Ipietoon Blogger Template