Pintaku tak muluk, hanya adakan Aku biar tak terasa maya. Keadaan
ini membuatku bertanya, “Iakah Kita akan melangkah kesana?” tes apalagi yang
kau berikan padaku. Menunggu itu lelah Abang, sungguh sangat melelahkan. Serasa
hati dan pikiran berlari, apa Kau rasakan hal sama? Atau sebaliknya?
Sudah kujelaskan apa yang tidak Aku suka, namun Kau malah
bertingkah demikian ini. Harus bagaimana Aku. Apa Kau tau, jika tangisku
karenamu. Kau tau, ada yang menghantam tubuh ini ketika kubaca statusmu. Buliran
air mata mengalir di taubatku, “Kenapa dengannya? Apa yang harus Aku perbuat
Gusti? Maafkan Aku, jangan Kau kotori cintaku yang mulai tumbuh denganMu, hanya
karena hambamu yang baru menyapaku sejenak saja.”
Siapa yang egois disini? Sungguh, tak bisakah Kau mengerti
Aku wanita dengan perasaan yang mudah rapuh, Aku sungguh masih malu memulai. Seharusnya
Kau tau itu? Sudah kukatakan, “tolong jelaskan, apa kurangku agar kutau apa
maumu. Jangan kau diami Aku!”
Aku wanita abang, meski bibir kubuka lebar untuk tersenyum. Namun
hatiku menjerit, “Aina anta?” tak merasakah Kau, tangisku dalam sujudku selalu
meminta, “sampaikan rinduku padanya Gusti, Aku rapuh. Ku titipkan rinduku lewat
Engkau. Satukan kami dalam naunganMu, tata niat kami. Bismillah taqorrub
illahllah. Ingatkan kami kala kami lupa, istiqomahkan kami beribadah kepadaMu. Jadikan
dhuha, tahajjud, siam, dzikir menjadi kebiasaan kami. Sebelum, hingga nanti
bahkan sesudahnya sampai Kau sendiri yang menjemput Kami lewat malaikatmu. Ingatkan
Dia, akan malam, siang dan paginya. Kelak, satukan Kami karenaMu.”
Tak semua doaku mampu kutulis, karena jariku sudah tak mampu
menahan rindu bersua denganmu.
0 comments:
Post a Comment