Sunday, 9 November 2014

Identitasku Tergantikan

Kalau berbicara tentang identitas , jadi teringat salah satu mbah kita, mbah Stella Ting Toomey yang mengatakan bahwa identitas merupakan refleksi diri atau cerminan diri yang berasal dari keluarga gender, budaya, etnis dan proses sosialisasi. Terus bagaimana jika identitas tergantikan?
Inilah yang sedang ada dalam benak gue, ketika semua pada ribut tentang perubahan warna jas almamater, ada yang berpendapat “apa yang salah dengan warna, toohhh… semuanya sama aja”.  Heemm,,, tapi jika mengacu pada dawuhe mbah Toomey tadi, jelas berpengaruh bro, secara identitas sendiri merujuk pada refleksi diri kita sendiri dan persepsi orang lain terhadap diri kita. Kampus kita yang terkenal beraninya dengan bersimbolkan jas merah, kini tergantikan dengan warna hijau. Merah kita tergantikan bro. Keberanian, kekuatan dan ketegasan kini telah tergantikan. Jadi teringat temen gue dari kampus lain yang bilang “ Bro, jasmu apikmen, oleh nyilih diluk ge foto gag?”. Kalau bahasa surganya gini bro “ Bro, Jasmu bagus sekali, boleh pinjam sebentar untuk foto gak? “.
Tapi sekarang gue hanya bisa kerutkan dahi, memandang pemandangan asing di kampus kita. Sama tapi berbeda, yang tampak dalam mata sekarang ini adalah merah dan hijau dalam satu tempat yang sama dengan tujuan yang sama tapi berbeda. Gak sekalian aja dihiasi warna kuning, biar kayak lampu lalulintas yang ada di utara kampus kita. Hahahaha,,,,
Inilah takdir dan jalan tuhan yang harus kita jalani bro, kalau ada yang wawancara “ Apa harapan mbak kedepan untuk kampus kita?”, langsung saja tanpa basa-basi agar tidak basi gue pasti jawab “ Semoga Identitasku dikembalikan”. Tapi sayangnya itu semua hanya ada dalam rentetan yang ada dalam benak gue, hahahaha,,,

Dan akirnya, inilah harapan gue lewat secarik kertas tentang kampus kita dan semoga dapat melayang ke arah yang memang seharusnya tertuju.

Jum'at, 07-11-2014 (07.00 PM)

DIBALIK BUKU USANG

Menyelam mengarungi nikmat yang tersembunyi dibalik pagi, bau tanah semakin terasa menyengat. “Subhanaallah kembali kau teteskan kami berkah lewat embun di pagi ini” Gumamku dibalik cendela kontrakan kecilku setelah sekian lama, tak menikmati tetesan berkah lewat langit.
Brok,,, Brok,,, Brookkk,,,
“jah,,, banguuunn,,,” teriak andini  teman sekontrakanku dari balik pintu,
“Apaan sih kamu din, kalau jantungku copot gimana?”
“habis gue kira, loe lupa kalau hari ini kita ada pentas” jawab andin dengan logat Jakarta medok khasnya.
“ gak sayang, ayo berangkat” kutarik tangan mungilnya yang mulai merasa malu.
Pertemuan kami ketika OSPEK ditambah lagi kebersamaan kami setiap hari dibawah atap yang sama serta kesamaan kami bergelut dibidang teater menjadikan kami sudah seperti saudara, jauh dari orang tua tidak menjadikan kami terus terpuruk, tapi malah menjadikan semangat tersendiri untuk menggapai apa tujuan kami, merautau ke kota yang terkenal dengan sebutan kota tahu ini.
 Sesampainya dikampus kami berpisah, karena memang peringatan hari pahlawan selalu menjadi kesenangan tersendiri bagi kami, job teater penuh. Hari ini andin pentas dikampus sebelah, sedangkan aku harus menemani anak didik teaterku pentas di sekolahnya.
Tidak terasa acara sudah usai, Alhamdulillah semua berjalan lancar. Kini waktunya pulang dan  sejenak memikirkan tugasku yang sedikit terabaikan. Hampir setengah jam aku menunggu bus tapi tak kunjung datang,sampai akirnya kuputuskan untuk berjalan dengan harapan semoga berapa langkah kedepan ada angkot yang bisa aku tumpangi. Tiba-tiba kudengar teriakan seorang kakek “ Hey, kau anak muda, tidakkah kau sadar bahwa sejarahmu tersimpan dalam buku tua ini, tidak sepantasnya kamu membuangnya” teriak seorang kakek tua sembari mengambil buku yang berada ditanah, tak sedikit kuliat apa judul dari buku itu, dia menangis sembari terus berkata-kata “Duh gusti, kok jadi seperti ini negaraku, kemana jiwa patriotisme mereka bahkan sejarah saja terlupakan” seketika aku tersentak mendengar perkataan beliau dan menggerakkan kakiku untuk berjalan mendekatinya.
“Maaf kek” belum sampai aku melanjutkan perkataanku beliau langsung berteriak tepat ditelingaku dengan nada tinggi “Kenapa kau anak muda??? Apakah hendak kau injak-injak pula sejarahmu” air mata mengucur deras di pipinya.
“ Maaf kek, apakah yang membuat kakek sampai seperti ini” tanpa ada cela kakek tua itu langsung berkata “ Apakah kau sama dengan anak muda itu, yang tidak menghargai buku, yang membuangnya seperti sampah tiada guna, tiada kau taukah bahwa ini berisi sejarahmu???
69 tahun yang lalu, kami memanjat untuk menyobek bendera Belanda, kami berjuang tak perduli nyawa taruhannya, tapi kini aku melihat dengan mata kepalaku bahwa kami dilupakan”  kakek ini terus menangis, perkataannya sungguh membuat aku berkaca, kemana aku selama ini??? Taukah aku apa tragedy yang terjadi 69 tahun silam??? Aku hanya tau acting dalam panggung tapi aku tak pernah menyelam kedalamnya, kembali lagi kakek itu membangunkanku dari lamunanku, sambil memandangku tajam kakek itu berkata “ pemuda itu tadi telah membuang bahkan menginjak buku ini, Apakah Bill Gates ikut memperjuangkan Indonesia dulunya sehingga disebut-sebut sebagai pahlawan??? Ahhh,, sudahlah, sejarah kini hanya tinggal dibalik buku usang saja, sudahlah,,, pergilah anakku kuharap kau tak sama sepertinya” aku angkat kakiku sembari merunduk malu.

Kakek ini menyadarkan aku, mungkin tanpanya aku tak akan dapat berdiri dengan tenang seperti ini. Aku terlalu tunduk pada nikmat dunia lewat orang asing, teknologi yang semakin canggih bukan membuat aku berfikir bagaimana aku bisa memanfaatkannya tapi malah membuatku semakin bodoh. Memang benar jika sejarah hanya bersembunyi dibalik buku usang saja sehingga aku melupakannya. Budaya barat merusak semuanya, tak ada moral tak ada adab yang ada hanya biadap. Kejayaan sebuah bangsa itu tergantung bagaimana ia menghargai pejuangnya. Kejayaan sebuah bangsa itu berasal pula dari para pejuangnya.  Memang saatnya menyibak kembali sejarah dibalik buku usang. 

Minggu, 09-11-2014 (09.41 PM)

Sudah merdekakah kau Indonesia???

Kelam hati tak kuasa
Menyibak sedikit cerita dibalik buku usang tiada guna
Selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah
yang dapat membikin secarik kain putih , merah dan putih
maka selama itu tidak akan kita akan mau menyerah kepada siapapun juga”
Mencoba menyelam kedalamnya
Tak terbayang gelegar teriak Bapak pahlawan kita
10 November 1945, peristiwa terkenang luapan darah merah menyala
Merdeka atau mati, Allahuakbar, Allahuakbar,,,
Teriakmu membakar nyali dibawah cekik terik karunia ilahi
Menggemakan kalam-kalam ayat suci tanpa henti
Menahan sakit peluru yang menghujam diri
Demi negerimu yang pertiwi
Memandang kembali dibalik jendela yang mengisahkan kisah tragis
Tentang pemuda pemudi yang tak lagi perduli akan nasib negeri
Sudah merdekakah kau Indonesia??
Ketika tikus yang berkuasa
Ketika mufakat menjelma menjadi siasat
Ketika wakil rakyat berubah menjadi penghianat
Ketika sejarah hanya bersembunyi dibalik rak kusam yang tak berarti lagi
Sudah merdekakah kau Indonesia??
Ketika mata telah dibutakan oleh nikmat duniawi
Yang berjasa tak berkuasa
Yang berjasa bahkan tak bermakna
Sudah merdekakah kau Indonesia??
Ketika Indonesia bukan lagi milik Indonesia
Ketika asing berkuasa serta adab menjadi biadab
Ohh,,, inilah negeriku
Yang dulunya makmur, kini orangnya kufur
Sudah merdekakah kau Indonesia???

Sabtu, 08-11-2014 (19.00 PM)

Sunday, 19 October 2014

Kamu yang menggangguku (16-11-2014)

Malam ini kamu hadir lagi, dengan sejuta pesonamu yang sangat mengusik setiap langkah kaki yang sedang mendaki. kamu yang disana, yang punyai segalanya, yang tau akan cinta terhadap robbinya dan ketika ku tatap diriku muncul dalam benak,,,
siapa aku?
berani menaruh harapan pada dirimu, yang mungkin menoleh terhadaku pun perlu berfikir panjang, kamu punya segalanya yang tidak dipunyai orang lain, kamu punya cinta, cita dan harapan. sedangakan aku??? hahaha,,, berjalan saja masih menggunakan tongkat, tongkat yang tidak pernah diketahui orang lain selain aku dan Dia, iya dia sang pencipta bumi dan isinya.
Apa yang dapat diperbuat olehku, aku yang sangat kecil, aku yang tak punya nyali selain memasrahkan semua pada ilahi, masalalu yang sangat menjijikan sungguh memutuskan harapanku dapat bersanding dengamu, kamu yang merubah segalanya, masih sangat teringat jelas kata-katamu yang menunjukan betapa buruknya aku, masih belum bisa merubah kebiasaan yang tidak pantas itu, bodohnya aku yang memimpikan menjadi muslimah sejati tapi tidak mau merubah diri, terimaksih kamu yang memberiku sedikit paparan tentang bagaimana seharusnya seorang muslimah itu, terimakash dan jangan pernah bosan mengajariku tentang kalam ilahi yang memangnya yang seharusnya berdendang di mulut setiap hambanya, terimaksih mau hadir dalam malam-malamku, sehingga membuaku mengoreksi diri untuk menjadi lebih baik, terimasih untuk semuanya dan terimaksih karena mengingatmu menjadikan aku lebh menengok ke semua dosa-dosaku serta membuatku menangis di setiap malamku memohon agar seandainya kau jodohku semoga allah mendekatkan kita  tapi kalau tidak aku berharap dapat melupakanmu seperti sebelumnya ketika seseorang menggagu malamku. banyak yang datang dan pergi dan hanya menjadikan singgahan saat nyaman enggal menempat pada diri mereka, tapi harapanku tetap jalan seperti biasa tanpa mengubah semuanya, dan semoga ada saatnya kau yang kudambakan dapat menjadi imam dalam kehidupanku nanti.

Sunday, 28 September 2014

AKU INGIN SEPERTIMU

Kala malam tiba
Aku bersandar pada sang pencipta
Yang menjadikan bumi dan isinya
Yang mengirimkan malaikat tanpa sayap tepat di depan mata
Dialah bunda
Manusia setengah dewa, yang mengajari tentang dunia
Memberikan semuanya tanpa berharap jasa
Pahlawan yang berharga dengan penuh pancaran surga
Tanpamu aku tiadalah guna
Terhempas angin tanpa arah dan tujuan
Aku  tak yakin apa aku dapat membalasmu
Yang sering hanya dapat membatahmu
Bukan sekali bahkan berkali-kali
Ku buat linangan air di pipimu
Aku tak pernah berfikir
Bagaimana kau dulu membopongku
Bagaimana kau menghapus air mataku
Kenapa aku baru menyadarinya?
Kenapa aku baru menyadari bahwa kaulah segalanya
Kaulah satu-satunya yang harus aku bangga
Aku ingin sepertimu
Yang tidak mempunyai lelah dalam lelah
Yang tidak mempunya keluh dalam kesah
Yang tidak mempunyai sedih dalam susah
Aku ingin sepertimu
Yang selalu mempunya canda dan tawa
Yang mempunyai banyak cara agar aku bahagia
Aku ingin sepertimu
Yang bisa menjadi pelipur kala lara
Yang kuat lebih dari baja
Aku ingin sepertimu
Yang selalu berdiri tegak menjadi penyangga
Aku ingin sepertimu
Yang Rosulpun memuliakanmu
Aku ingin sepertimu
Yang punya sabar tiada batas
Yang punya tabah tanpa gegabah
Aku ingin sepertimu
Yang Ridhomu adalah Ridho Allah
Yang murkamu adalah murka Allah
Aku ingin sepertimu
Bunda…


KAPAN AKU BERANI MENGATAKAN?

Tak pernah terbayang dalam anganku
Menuliskan kata untukmu
Egois menjadi raja yang berkuasa
Aku malu, bahkan sungguh malu dan sangat malu
Berucap sayangpun tak pernah
Bunda, bodohnya aku
Yang tidak menjadikanmu orang pertama
Padahal kau selalu yang pertama
Dan kata itu
Dan kata itu untuk orang yang salah bunda
Dan kenapa aku baru menyadarinya
Dan kenapa aku baru mengerti semuanya
Akan lelahmu yang engkau sembunyikan
Akan kesahmu yang tak pernah engkau keluhkan
Akan makan yang kadang engkau tunda
Akan sakit yang tak pernah engkau rasa
Kenapa aku baru menyadarinya bunda?
Kenapa?
Ketika tuamu tiba
Ketika linu yang sering melanda
Ketika engkau sering berbaring hanya karena nanda
Ketika aku tak tau kapan hari itu tiba
Hari dimana tak ada tempatku bersandar
Hari dimana tak ada tempat untuk melepas penat
Hari dimana tak dapat kuliat senyum manismu
Hari dimana tak ada yang menungguku di depan pintu
Hari dimana tak ada yang mengingatkanku
Hari dimana kain kafan membalutmu
Aku tak inginkan itu bunda
Aku tak inginkan itu tiba bunda
Aku ingin mengelak
Tapi apa daya aku hamba yang hanya bisa meminta
Bunda aku tak tau apa keinginan terbesarmu
Satu yang belum bisa kupersembahkan untukmu
Tapi apakah aku bisa mengalahkan egoku?
Kapan aku bisa mengatakan itu bunda?
Kapan aku punya nyali?
Kapan aku bisa menghapus malu yang masih menyelimuti diri?
Kapan aku berani untuk ungkapkan bunda
Kapan bunda, kapan?
Kapan aku berani katakan?
aku sayang bunda, aku sayang bunda

dan sangat sayang bunda

Jalanmu

Kini aku tau kenapa kau melarangku, kini aku mengerti kenapa  kau sangat marah dan tidak suka dengannya. Semua jawaban itu sudah terpangpang jelas ayah, aku menyesal bahkan sangat menyesal kenapa aku tidak mendengarkan semua perkataanmu. Kini aku hanya dapat dilumuri sesal dan tidak tau apa yang akan terjadi ke depan. Seperti memandang suram ke depan dan sedikitpun aku tak berani mengatakan sejujurnya kepada semuanya, memandang diriku sendiri saja aku malu, tapi satu keyakinnanku yang memperbaiki diri pasti akan bertemu pula orang yang memperbaiki diri.
Sudah beberapa bulan aku mencoba untuk bangkit ketika jalan Allah yang aku pilih, hubungan 5 tahun bukanlah sebentar, dia selalu menuruti bahkan memberi apa yang aku inginkan apa yang aku mau. Gengsi mengalahkan segalanya tak tau itu dosa atau tidak, tak pernah ku dengar apa kata ayah bunda, salah pergaulan tepatnya membuat aku lupa semuanya, aturan akan agama bahkan pendidikan pesantren yang aku jalani 3 tahunpun tidak ada artinya. 5 tahun aku jalani hubungan yang dilarang agama bukan hanya itu berbohong menjadi kebiasaan. Tidak bisa dihitung berapa banyak aku membuat orang tuaku menangis hanya karena seorang laki-laki yang tidak jelas pasti, pernah suatu ketika bunda memang benar-benar sangat marah karena aku menuruti laki-laki yang saat itu menjadi pacarku mengikuti suatu kegiatan hingga larut malam, aku tak pernah berfikir betapa bingungnya beliau, aku tak pernah berfikir bagaimana perasaannya, aku turuti keinginanku tanpa melihat orang yang memperjuangkanku. Tapi, semua berakir ketika aku mulai 1 tahun bekerja dan mulai memasuki dunia perkuliahan, ketika aku bertemu dengan orang-orang membuatku iri akan kesungguhnya untuk menjadi muslimah sejati. Seorang ustad berkata "Orang yang memperbaiki diri pasti akan bertemu dengan orang yang memperbaiki diri pula, jadi udah putuskan saja," kata itu membuatku benar-benar tersentak. Sudah lama semenjak aku mengenal seorang teman yang berdiri tegak dengan keteguhan imannya, ingin rasanya memutuskannya tapi masih belum berani tapi ketika aku mendengar ceramah ustad tadi langsung tanpa basa-basi aku memutuskan semuanya, begitu rumit untuk pertamanya karena memang dia tidak bisa menerima semuanya, tapi entahlah  kuasa Allah yang menjawab semuanya, kini tinggal memsrahkan semuanya dan proses untuk semakin mendekatkan diri kepadanya. Biarkan Allah yang menjawab, aku yakin akan kekutannya dan ketika pikiran terganggu oleh dunia yang semua cukup menadahkan tangan dan memohon kepadanya, bukan hanya sekali bahkan berkali-kali Allah menjawab semuanya tapi anehnya kenapa aku beru menyadarinya.
faiinamaal usri yusro, inna maal usri yusro,,,,
subhannallah sungguh
fabiayyi ala irobbikuma tukaddiban.

Sunday, 14 September 2014

14 Sep 14 (20th)

Pagi ini ku buka mataku dari bayang-bayang mimpi yang masih menghantui. Ku ambil air wudhu kemudian q raih handphone yang ada di depan tempat sujudku, alangkah syoknya 9 panggilan tak diharapkan dan beberapa pesan di spam, ah,,, berhubung itu tidak diharapkan jadi ya tidak ku anggap pusing. Tapi ketika ku cek pesan di inboxku, 

hmmm,,, 14 Sep 14 
Stau qw ada yang ulng tahn ni,. :)
Hppy Birth Day.,
Smga smua yang baik" semakin bertambah, dbri pnjang umur dn smga sllu di bri kkuatan untk bribdah., Amiin.,

begitulah isi pesannya.  setelah beberapa hari tak ada surat melayang di hpku darinya. Bahagia itu sangat sederhana, ketika kita terbangun dari tidur dengan senyum karena snyumlah awal semuanya.

Saturday, 13 September 2014

Palestina

Kali ini q torehkan lagi tentangmu
iya tentangmu palestina
yang menuai banyak cerita
dengan beribu tanya
yang nyata bukan khayal semata

Bumiku palestina tinggal tanah saja
tak ada Tv yang dapat aku tonton
sehingga hanya kupandangi komputer di dpanku
yang menunjukkan gambar kebiadaban zionis laknatulloh itu

Ku pandangi mereka yang tersayat
mereka yang menjerit, mereka yang menangis, mereka yang tak henti mengagungkan namanya
tanyaku dalam hati
Tidakkah kau lelah?
Apakah ini adil?
Apa sebenarnya rahasia Allah di balik ini semua

Ohh,,, Palestina
bersabarlah akan tiba masanya
Allah menjawab doa kalian

Rindukan Sosokmu

Proklamasi
Kami bangsa Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya
Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dll, diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.
Jakarta, 17 agustus 1945
Atas nama bangsa Indonesia
Soekarno- Hatta

Gelegar teriakmu bapakku, aku tidak pernah mengenal sosokmu bahkan aku dulu sungguh buta akan sejarah dan tidak mau tau akan  sejarah. Lambat laun aku sadar aku rinduan  sosokmu bapak, sosok yang disegani ditakuti oleh banyak Negara di dunia.
Bapak ketika aku  putar kembali sedikit memory dahulu, aku sungguh rindukan sosokmu bapak, aku takut penjajah  itu kembali, aku takut Indonesiaku bapak. Taukah kau bapak??? Ketika mulai aku temukan sosok yang mempunya wibawa sepertimu, ditakuti dan disegani oleh dunia. ech, malah Allah berkata lain untuk negeriku ini. Bapak Soekarno adakah sosokmu di tahun 2014 ini ya, kadang terlintas dalam benakku bagaimana Indonesia 5 tahun ke depan. Bagaimana kalau papua mendirikan Negara sendiri, bagaimana bapak???  
Sunggu aku rindukan sosokmu untuk Indonesiaku

 
AZ-ZHAFIROH Blogger Template by Ipietoon Blogger Template