Angin malam berhembus
membawa kabar tentangmu, tapi tak sedkitpun bercerita dimana kamu atau
bagaimana kamu. Hanya sekejab aku memandangmu dalam lukisan kamera yang
terlintas dalam akunku. Entahlah, apakah aku mulai jatuh? Kita belum pernah
bersua tuan, hanya nama dan akupun tak tau apa itu benar adanya, tapi kenapa
yakin?
Apa mungkin ini karma
karena pernah meremehkanmu, jika mungkin iya bisakah kamu pergi sekejab saja
hingga aku mampu menyelesaikannya, temui aku nanti ketika aku sudah mampu
menyuguhkan mahkota untuk kedua cintaku.
Mulai ada rasa ingin
mengarah kesana, bahkan aku mulai belajar melukiskan scenario yang mampu
memenuhi hari kelak dengan syurga. Dimana tergambar dalam benak hari-hari yang
penuh cinta dan Al-Qur’an. Kelak pasti terwujud dan itu pasti, hanya perlu
sedikit waktu. Jika bukan kamu atau bukan kita pasti sudah menanti aku yang
lain diluar sana atau kamu yang lain, percaya itu.
Biarkan doaku yang
mewakili inginku dan biarkan dia yang berjalan hingga mampu menembus itu semua.
Sekarang bukan saatnya, karena aku belum ada apa-apanya, aku masih seperti baju
kotor yang perlu dibilas berapa kali lagi hingga mampu kau pakai untuk harimu
kelak.
Nantikan aku jika kau
mampu.
0 comments:
Post a Comment