Orang tua terutama mak
selalu menjadi tempat untuk mencurahkan semuanya, dari yang hanya tersandung
kerikil kecil hingga bongkahan batu yang besar. Keterbatasan waktu untuk kita
bertemu menjadikan moment pertemuan sebagai pelepas penat setelah seminggu
beraktifitas jauh dari orang tua. Tapi memang inilah bukti kita, anak-anak
mereka untuk menunjukan rasa sayang kepada mereka dan aku merupakan anak yang
beruntung di antara mas, mbk sama adik perempuanku, mereka bertemu mungkin
hanya setahun satu, dua atau tiga kali dalam setahun. Masku dulunya bekerja
ditempat yang lumayan jauh, dan mbkku harus ikut suaminya serta perlu beberapa
jam untuk pulang sehingga menyebabkan mbak malas untuk pulang karena perjalanan
yang cukup jauh. Sangat jauh berbeda denganku yang masih mendapat kesempatan
untuk sekedar bersua dengan beliau tiga sampai empat kali seminggu. Sedangkan adik
perempuanku masih harus menempuh pendidikan dipesantrennya.
Sore ini seperti
biasanya sebelum berangkat kuliah aku mulai mencurahkan semuanya tentang perasaan
dan pengalaman. Beliau mendengarkan dan bertanya-tanya sehingga menjadikan aku
semakin nyaman untuk terus bercerita.
“ Yo ngono iku, nek
kabeh dipasrahne nang sing gawe urip lak panggah intuk pitulung to.”
Ya
gitu, kalau semua dipasahkan kepada dzat yang membuat hidup pasti dapat
pertolongankan. Dalam setiap perjalanan aku merenungi kata
tersebut, karena beliau setiap hari aku mampu menumbuhkan keyakinanku akan
kuasa-Nya.
0 comments:
Post a Comment