"Mana mungkin to nay, Dia mau sama
aku, "
Aku tau nay, memang masalah menikah semua sudah ku pasrahkan pada Umi, tapi Kau taukan? Aku merasa canggung Nay, merasa gak pantas. Apalagi Beliau santri , hafidz yang baru lulus pesantren kemarin.”
Aku tau nay, memang masalah menikah semua sudah ku pasrahkan pada Umi, tapi Kau taukan? Aku merasa canggung Nay, merasa gak pantas. Apalagi Beliau santri , hafidz yang baru lulus pesantren kemarin.”
“Lah, katanya pasrah kok masih ngomeng to Hilya?”
Sela Nadia.
“Bukan maksudku demikian, Kau tau Nad
bagaimana masalalukukan? Aku malu Nad.”
Andai mampu kuputar waktu ingin Aku kembali
ke masalalu, merubah semua jahiliyah. Entahlah! Bahkan Aku sudah tak mampu
mengingatnya. Gelap. Setelah Nadia teman lamaku mampu membawaku kembali,
mengenalkan rahmat yang lama kulupakan, Aku mulai belajar mengulang semua
kajian dulu dipesantren. Dia juga yang memberitahuku bahwa ada mahkota indah
yang mampu kuserahkan pada Umi dan Abi yaitu dengan hafalan Al-Quran.
Alhamdulillah dalam jangka waktu satu tahun, Aku sudah mampu menghafal 30 juz. Semua
Karena tekad dan karunia Allah yang memberiku kemampuan mengingat lebih
daripada lainnya. Umurku sudah 23 Tahun dan Umi menginginkan Aku segera
menikah, agar terhindar fitnah kata beliau. Pertama Umi memintaku untuk memilih
sendiri, tapi Aku sendiri bingung harus memilih siapa. Setelah proses hijrah
ini, Aku bahkan sudah tak pernah lagi bertegur sapa dengan lelaki manapun
kecuali saudaraku. Alhasil, kupasrahkan semua kepada Umi dan Abi. Aku percaya
pada pilihan mereka, toh selera Abi sama denganku. Hingga akirnya mereka
mengenalkanku dengan Ahmad, anak rekan Abi yang baru lulus dari pesantren.
“Tenang saja! Jika memang beliau
benar-benar santri pasti akan melihat Hilya yang sekarang bukan yang dulu.”
Semoga saja demikian, Aku sungguh merasa malu pada diriku sendiri. Robby, fabiaayi alaa irobbikima tukaddiban, nikmat mana lagi yang bisa aku dustakan. Mampu berhijrah saja sudah menjadi nikmat terindah dalam hidupku, tak berhenti disitu, Engkau bahkan memberiku kesenpatan untuk menjdi seorang penghFal al-quran. Kini kau tambah lagi nikmatmu kepadaku dengan mendatangkan Ia. Namun, bagaimana kang Ahmad, Apa Dia mampu menerima masalaluku? Apa dia berkenan berpasangan dengan seseorang yang seperti ini? Apa dia tidak akan malu denganku yang hina ini.
"Duh, gusti! Kenapa denganku?"
Ku ambil mushaf diatas meja, satu persatu ayat mulai kubaca. Semakin aku menyelam, bayangan masalalu semakin nampak jelas didepnku. Buliran air mata menetes diatas kalamnya.
"Maafkan aku Robby, pantaskan air mata ini mengalir diatas firmanmu yang suci?" igfirly robby, igfirly."
0 comments:
Post a Comment