Monday, 21 July 2014

AKU KALAH

Matahari mulai pergi tiggalkan bumi, bulan mulai menunjukan senyum manisnya. Ku termenung di balik cendela memandang indahnya kuasa- NYA yang baru kusadari, yang selama ini bahkan aku lupa akan keberadaannya. Timbul dalam benakku “Ya Allah betapa bodohnya aku, yang tak pernah mensukuri karuniamu, betapa lalainya aku yang selama ini melupakanmu.” Dalam isak tangisku aku teringat seseorang yang sekaligus menjadi bapak untukku, yang selalu ada saat aku membutuhkan, seseorang yang berkorban untukku untuk masa depanku, dia korbankan semuanya untukku. Tapi hari ini aku hancurkan semua harapan yang di taruh di pundakku, aku teringat ketika dia memalingkan wajahnya, ketika dia hanya diam dan tidak bisa berkata sedikitpun. Ini karenaku, aku dngan kebodohanku masuk ke lubang kenistaan, ku berikan semuanya hanya untuk si hidung belang yang tidak mempunyai otak. Aku baru sadar bahwa semua yang dikatakan ibu benar, dia hanya kumbang jalang yang tak mempunyai sayap untuk terbang, sering kubohongi ibuku, “ibu ada iuran hari ini, untuk bayar tugas kelompok,” tapi apa? Uang itu aku gunakan untuk foya-foya dengan seseorang yang tidak sedikitpun mempunyai nyali. Setiap pagi ku tadahkan tanganku untuk minta uang saku ibu, tapi sedikitpun tidak ku injakkan kakiku untuk menuntut ilmu.
Nafsu mengalahkan akalku, aku kalah dengan iblis, bisik-bisik suara itu membuat aku mencapai puncak kebodohanku, kesenangan mengalahkan segalanya tanpa berfikir akirnya. Ku melakukan perbuatan yang dilarang, aku terjebak, aku kalah. 2 bulan berjalan aku tidak sadar bahwa aku hamil, aku mulai merasakan lemas, lelah, letih, mual dan hanya menghabiskan waktu tiduran di kamar, sampai akirnya ku ambil telephon gemgamku, ku cari satu-satu dan akirnya aku menemukan nama yang aku cari di kontak,
“hallo, sayang bisa antar aku ke dokter hari ini, aku merasa kurang enak badan hari ini,” dengan lembut dia menjawab
“ iya sayang, aku segera kesana,” segera kututup telephon gemgamku dan ku ambil tasku, tanpa pamit ibu aku langsung pergi.
“selamat buk, anda positif,” kata si dokter,
“apa positif? ” sahut si belang,
“iya pak, istri anda hamil 2 bulan,”
“oh gitu, iya terimakasih dok,” , aku sangat kaget, aku hanya diam dan tidak bisa berkata apa-apa, “tenang sayang, aku akan segera melamarmu,” kata si belang.
Aku hanyut dengan perkataan itu, sehingga aku tidak berfikir sedikitpun tentang bagaimana reaksi ibu, toh aku juga sangat sayang dengannya.
            Hari demi hari berlalu, tidak sedikitpun dia memberi kabar, tidak ada balasan disetiap smsku, nomor sering tidak aktif, 1 minggu berlalu  aku mulai gelisah, aku  segera bergegas untuk ke Kontrakannya. Kutetuk pintunya berkali-kali, ku panggil namanya tapi tidak ada jawabannya. Tiba-tiba “Maaf non, cari siapa?” Tanya si pemilik kos,
“mau cari yang tinggal di kamar ini buk” jawabku mulai gelisah.
“ Masnya yang tinggal disini sudah pindah sejak seminggu yang lalu non, tidak tau pindah kemana,” rasanya seperti ada gumpalan batu besar yang menimpaku, aku hanya diam, entah apa yang ada di pikiranku, semua melayang, kosong, tanpa tersadar aku terjatuh.
            Terdengar sayu-sayu suara Ibu, “ sayang, kamu sudah bangun ?” air mataku tumpah seketika, aku tidak bisa menjawab dan hanya bisa menangis sejadi-jadinya di pelukan ibu
“maafkan aku ibu, maafkan aku,” hanya kata itu yang keluar dari mulutku, aku takut ibu marah karena sebenarnya ibu tidak setuju dengan hubunganku, aku takut.
“ada apa sayang, ceritakan kepada ibu,” tanyanya dengan raut wajah sedih melihatku yang hanya dapat menangis, dan berkata maaf.
“ aku, akuuu, akuuuuu, aku hamil ibu, dan dia pergi,” dengan terisak-isak ku beranikan diri mengatakan itu pada ibu. Raut wajahnya berubah seperti ingin marah, tapi aku tau ibu, dia  tidak pernah mau marah dengan  anaknya, dan dia hanya berpaling dan langsung pergi begitu saja, melepas tanganku dari pelukannya,
“ ibu maafkan aku, ibu maafkan aku, aku khilaf ibu, maafkan aku” ku tarik kakinya, tapi sedikitpun tidak mau melihatku, dia berusaha melepas tanganku, memang pantas jika ia marah dan kecewa, 
            Alunan adzan membangunkan aku dari lamunanku, ku pandangi perutku kumenangis dan menjerit sejadi-jadinya, ku pukul perutku dengan sekeras-kerasnya.
“kamu harus mati, aku tidak ingin kamu” terkadang aku tersenyum sendiri, dan tiba-tiba menangis. Aku seperti orang gila, terus-terusan kupukuli perutku, tiba-tiba dari balik pintu
“nak buka pintunya, ini ibu sayang, maafkan ibu,” ku buka pintu kamarku, darah bercecer dimana-mana. Ku peluk ibu dan tanpa sadar aku terjatuh di pelukan ibu,
“ maafkan aku ibu, aku tidak pernah mendengarkan nasehatmu, aku kalah, aku kalah dengan setan ibu, maafkan aku,” dengan airmata yang tidak berhenti mengalir,
“iya nak, ibu sudah memaafkanmu,” jawab ibu yang sangat miris melihat kondisiku. “
 Aku sayang ibu dan aku harus kembali, terimakasih untuk semuanya ibu, I love you mom,” ibu menangis sejadi-jadinya, tuhan berkata lain inilah akir dari hidupku, aku kalah. 

0 comments:

Post a Comment

 
AZ-ZHAFIROH Blogger Template by Ipietoon Blogger Template