Monday, 9 November 2015

Ketika mata mulai terbuka

Kini ku mengerti Bunda, bahwa itu memang tak pantas disandang.
Kini ku mengerti Bunda, bahwa itu aib yang tak seharusnya dilakukan.
Kini ku mulai mengerti Bunda, ketika semua yang ku lakukan dulu adalah salah.
Seharusnya Aku faham.

Aku berjalan tak hanya membawa namaku sendiri tapi ada namamu dan Ayah diatas kepalaku.
Andai ku buka mata dari dulu, mungkin tak ada sesal yang kurasa.
Ayah, maafkan Aku, yang tak pernah mau mengerti sesusah apa kau mencari sesuap nasi untukku.
Masih teringat jelas, ketika Aku meminta tanpa memberimu jeda, ketika Aku merengek, tanpa melihat bagaimana situasimu. Andai ku buka mata, mungkin akan ku tau bahwa panas, pegal, dingin bahkan sakit tak pernah Kau rasa.

Sesekali tak pernah ku mendengar kau mengeluh, “Aku lelah nak!”.
Andai dari dulu mataku terbuka, pasti tak akan ku buatmu marah karena kelakuanku, tak kubuat Kau mengelus dada karena sikapku.
Bunda, maafkan Aku. Andai kubuka mata, mungkin takkan ku buat kau menangis. Karena kini ku baru menyadari bahwa Kau adalah cahaya, membawa terang setiap mata ini mulai redup karena permasalahan dunia.

Bunda, kenapa Aku baru menyadari bahwa tutur lembutmu lebih manis dari para buaya jalang itu. Kenapa Aku baru menyadari bahwa pelukanmu sangat hangat.
Kenapa Aku baru menyadari bahwa tak ada tempat yang paling nyaman, selain di pangkuanmu.
Andai telah ku buka dari dulu.
Maafkan aku Ayah, Bunda.


Kdr, 09-11-2015

0 comments:

Post a Comment

 
AZ-ZHAFIROH Blogger Template by Ipietoon Blogger Template