Kini ku mengerti Bunda, bahwa itu memang
tak pantas disandang.
Kini ku mengerti Bunda, bahwa itu aib yang tak seharusnya dilakukan.
Kini ku mulai mengerti Bunda, ketika semua yang ku lakukan dulu adalah salah.
Kini ku mulai mengerti Bunda, ketika semua yang ku lakukan dulu adalah salah.
Seharusnya Aku faham.
Aku berjalan tak hanya membawa namaku sendiri tapi ada namamu dan Ayah diatas
kepalaku.
Andai ku buka mata dari dulu, mungkin tak ada sesal yang kurasa.
Ayah, maafkan Aku, yang tak pernah mau mengerti sesusah apa kau
mencari sesuap nasi untukku.
Masih teringat jelas, ketika Aku meminta tanpa memberimu jeda,
ketika Aku merengek, tanpa melihat bagaimana situasimu. Andai ku buka mata,
mungkin akan ku tau bahwa panas, pegal, dingin bahkan sakit tak pernah Kau rasa.
Sesekali tak pernah ku mendengar kau mengeluh, “Aku lelah nak!”.
Andai dari dulu mataku terbuka, pasti tak akan ku buatmu marah
karena kelakuanku, tak kubuat Kau mengelus dada karena sikapku.
Bunda, maafkan Aku. Andai kubuka mata, mungkin takkan ku buat kau
menangis. Karena kini ku baru menyadari bahwa Kau adalah cahaya, membawa terang
setiap mata ini mulai redup karena permasalahan dunia.
Bunda, kenapa Aku baru menyadari bahwa tutur lembutmu lebih manis
dari para buaya jalang itu. Kenapa Aku baru menyadari bahwa pelukanmu sangat
hangat.
Kenapa Aku baru menyadari bahwa tak ada tempat yang paling nyaman,
selain di pangkuanmu.
Andai telah ku buka dari dulu.
Maafkan aku Ayah, Bunda.
Kdr, 09-11-2015
0 comments:
Post a Comment