Judul :
Pengganjal
Entahlah!
Lagi-lagi
kata itu lagi yang pertama keluar, karena memang, aku tak mengerti semua yang
bersembunyi dibalik batu besar yang bersarang di otakku. Ia terlalu mengganjal,
membuatku terasa sangat tersiksa. Batu itu bahkan mengapit kedua kakiku,
sehingga membuatku tak mampu berjalan. Aku bosan menghadapinya, adakah
pencungkit yang bisa memindahkannya? Lelah.
Seandainya saja,
ada air yang mampu menetesinya setiap hari, mungkin semakin ringan, pun
mengkikis sedikit demi sedikit. Sekuat apapun kaki mencoba, tetap saja. Naif
hasilnya. Kakiku sering merasa bosan dan enggan untuk mencoba beranjak pergi.
Robby, bantu
aku! Mengangkat kaki ini, agar mampu berjalan kembali. Dengan semangatnya yang
tak pudar. Kaki ini terlalu lemas, jika tanpa bantuan dari tangan-Mu. Puncak kelelahanku
dengan semua malas yang mengganggu, membuatku tak mampu menambah wawasanku. Akar
diamku adalah dia ;musuhku. MALAS.
Aku hanya insan,
yang hanya duduk terdiam menanti cahaya datang menyinari. Bodohku, aku hanya
diam dan tak mencoba menyusuri sedikit cahaya, dilorong yang tak pernah henti
menunjukan kepadaku jalan menuju indahnya cahaya yang sesungguhnya.
Robby, aku
mohon, aku minta. . . ,
Tunjukan
jalanmu, untuk meraih ridhomu. Menjadi bunga yang tetap menebar harum mengisi
udara kala nestapa sang angin.
Kediri,
24-08-2015
0 comments:
Post a Comment