Judul : Rindu Cahaya Negeri
Entahlah! Negeri ini
terasa semakin sesak. Tak ada jiwa pahlawan yang bersemayam di sanubari para
penerus Negeri. Aku sungguh geram, dengan tingkah pemuda masa kini yang
diperbudak oleh teknologi. Apalagi para petinggi. Apakah otak mereka sudah
tercuci dengan setan dunia yang berwujud uang? atau memang mereka tak memiliki
otak? Jika kataku yang demikian ini mau dipersalahkan, ya silahkan! Kemudian
apa fungsi demokrasi? Apakah demokrasi hanya label yang belum berstatus halal, sehingga
belum boleh dikonsumsi oleh para rakyat. Aneh sungguh aneh Negeriku ini, pemuda
berprestasi tak diakui. Seandainya para petinggi mau melek (membuka; bahasa Jawa) matanya, mungkin mereka tak perlu
pergi ke Negeri orang hanya untuk diakui.
Apakah kalian tau pak,
kemana larinya para pemain Garuda Indonesia? Ke Negeri tetangga. Karena apa?
Karena kalian masih saja asik dengan permainan monopoli dalam Istana sendiri.
Tidak ingatkah kalian, bagaimana kita bersorak bangga bahwa Indonesia mampu
naik ke puncak dengan kaki-kaki mereka? Apa kau tau, jika banyak
generasi-generasi Qur’an yang mampu mengharumkan nama Negeri ini? Tidak, bahkan
kau hanya bungkam membisu, mungkin karena kalian memang bisu.
Sungguh ironis, bukan
gedung lapuk yang seharusnya dirubuhkan. Tapi para petinggi lapuk disana yang
seharusnya dipangkas habis.
“Nduk, kamu lagi apa?”
Tanya umi, yang membangunkan dari gerutuku. “Astagfirullah” batinku.
“Kamu nangis to nduk?”
“Mboten umi, nduk
hanya jengkel lihat berita di Televisi.” Jawabku singkat. Tangan lembut umi
kembali membelai pipiku, menghapus air yang tanpa sengaja mengalir.
“Sudahlah nduk,
tangisanmu pun tak bisa merubah para penjabat itu.”
“Aku rindu Rosul umi,
aku ingin memiliki pemimpin seperti beliau.” Dengan sesenggukan tiba-tiba, kata
tersebut keluar dari mulutku. Dari berbagai sirah yang kubaca, aku bahkan ingin
merasakan hidup di zamannya.
Kediri, 16 Agustus
2015
0 comments:
Post a Comment