Mulai
kupejamkan mata ini, menimati hembusan angin beserta membayangan senyum manis
wajahnya. Sungguh nikmat mana
yang kau dustakan, aku
terjatuh pada suara manisnya. Bagaimana mungkin setiap pemandang tak terpesona
dengan seorang berstatus santri, perawakan tinggi berbadan bak tentara pengaman
negeri dan untungnya hanya sempat terlihat sekilas wajah manisnya.
“
Waalaikumsalam, enggeh mbk, ati-ati” (Iya mbk, hati-hati).
Sahutnya
ketika aku berpamitan dengan pak lek, Hahahaha,,,
Bodohnya kenapa aku tak tengok wajahnya, tak
bisa dipungkiri suaranya masih teringat jelas disetiap perjalananku pulang.
Kali ini aku pulang tak sendirian ada bapak yang asik mengemudi, sedangkan aku
asik berlayar dipulau imajinasi.
“Pak,
kang A itu umurnya lebih tua dari mas to? ” seketika muncul pertanyaan itu
lewat mulutku.
“mboh,
gak tau. Memangnya kenapa? “
“mboten
wonten nopo-nopo, hanya ingin bertanya saja kelihatannya kok lebih tua dari
pada mas ”, jawabku mengelak. Ah,,
sudahlah itu hanya hayal.
Masih
sangat jelas dulu emak pernah bilang gini “ Seandainya kang A gak anak nomor
satu mungkin sudah tak jodohkan denganmu “, yeeeahh,, inilah orang jawa, JILU
(siji Telu) tidak diperbolehkan dalam adat jawa entah apa alasannya, dulu juga
pernah ada seseorang yang datang lewat masku, beliau seorang yang bisa
dikatakan memiliki derajat tapi alas an JILU emak menolak.
Kediri,
04-04-2015
0 comments:
Post a Comment