Thursday, 20 August 2015

#Tak berjudul

Masih sering terlintas dalam benakku, aku benci dunia ini. Semu, penuh harapan tidak menentu. Ingin rasanya, membunuh satu persatu setiap setan yang datang menggodaku dengan berbagai tipu muslihatnya. Apalah daya, aku hanya manusia yang sering mengkufuri setiap nikmat yang Allah berikan kepadaku. Dan kalian tau! Lagi-lagi karena uang. Aku sungguh membencinya, tapi tak bisa dipungkiri pula, aku membutuhkannya.
“Ra, kamu nangis lagi?” tanya Ana, membangunkan dari lamunanku. kupandangi wajah Ana, beruntung rasanya, memiliki sahabat sepertinya. Dialah orang yang menyediakan pundaknya, untuk melepas semua penat yang mengganjal pikiranku. Tak pernah bosan, Ia mengingatkanku bahwa hidup tidak hanya untuk menyesali semua takdir yang terjadi. Masih banyak orang yang kurang beruntung dari pada kita. Ana yang sering mengajakku ke Panti, untuk menunjukkan masih banyak orang kurang beruntung dari pada aku.
“Ra!” panggilnya mengulang.
“Iya na, apa?” jawabku kaget.
“Sudahlah Ra! Tidak ada yang perlu disesali. Biaya berobat Umi sama sekolah Reni biar aku yang bantu, kamu sembuhkan dulu penyakitmu.”
“Tidak perlu Ra, aku masih ada tabungan. Aku bisa ambil cuti kuliah dulu sementara.”
Ana mendekatiku, dan berkata, “tidak Ra, kamu harus tetap kuliah. Toh, Ayahku juga suka kalau aku membantumu.”
“Kamu sudah terlalu sering membantuku Na.”
“Sudahlah, bukankah orang mukmin dengan orang mukmin yang lain seperti sebuah bangunan, sebagian menguatkan sebagian yang lain.”


#Bersambung

0 comments:

Post a Comment

 
AZ-ZHAFIROH Blogger Template by Ipietoon Blogger Template