#Tak berjudul
Masih sering terlintas dalam benakku, aku benci
dunia ini. Semu, penuh harapan tidak menentu. Ingin rasanya, membunuh satu
persatu setiap setan yang datang menggodaku dengan berbagai tipu muslihatnya.
Apalah daya, aku hanya manusia yang sering mengkufuri setiap nikmat yang Allah
berikan kepadaku. Dan kalian tau! Lagi-lagi karena uang. Aku sungguh
membencinya, tapi tak bisa dipungkiri pula, aku membutuhkannya.
“Ra, kamu nangis lagi?” tanya Ana, membangunkan dari
lamunanku. kupandangi wajah Ana, beruntung rasanya, memiliki sahabat
sepertinya. Dialah orang yang menyediakan pundaknya, untuk melepas semua penat
yang mengganjal pikiranku. Tak pernah bosan, Ia mengingatkanku bahwa hidup
tidak hanya untuk menyesali semua takdir yang terjadi. Masih banyak orang yang
kurang beruntung dari pada kita. Ana yang sering mengajakku ke Panti, untuk
menunjukkan masih banyak orang kurang beruntung dari pada aku.
“Ra!” panggilnya mengulang.
“Iya na, apa?” jawabku kaget.
“Sudahlah Ra! Tidak ada yang perlu disesali. Biaya berobat
Umi sama sekolah Reni biar aku yang bantu, kamu sembuhkan dulu penyakitmu.”
“Tidak perlu Ra, aku masih ada tabungan. Aku bisa
ambil cuti kuliah dulu sementara.”
Ana mendekatiku, dan berkata, “tidak Ra, kamu harus
tetap kuliah. Toh, Ayahku juga suka kalau aku membantumu.”
“Kamu sudah terlalu sering membantuku Na.”
“Sudahlah, bukankah orang mukmin dengan orang mukmin
yang lain seperti sebuah bangunan, sebagian menguatkan sebagian yang lain.”
#Bersambung
0 comments:
Post a Comment